Example 728x250
BERANDABERITA KALTENGKEMBALI KEBERANDA

Mei 2025: Sektor Peternakan Dorong Kenaikan NTP di Provinsi Kalteng

228
×

Mei 2025: Sektor Peternakan Dorong Kenaikan NTP di Provinsi Kalteng

Sebarkan artikel ini
Foto: Suasana press rilis yang digelar oleh BPS Provinsi Kalteng.

Palangka Raya, beritadigital.net – Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen pada Mei 2025 dibanding bulan sebelumnya, dari 134,15 menjadi 134,29. Kenaikan ini mencerminkan adanya peningkatan daya beli petani terhadap barang dan jasa yang mereka konsumsi maupun untuk kebutuhan produksi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, peningkatan NTP tersebut didorong oleh naiknya nilai tukar pada beberapa subsektor pertanian.

“Subsektor Peternakan menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan sebesar 1,20 persen. ucap,” Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti.

Hal tersebut ia sampaikan dalam siaran resmi statistik yang dilaksanakan bertempat di ruang pertemuan BPS Kalteng, Jalan Kapten Piere Tandean, Palangka Raya pada Senin (2/6/2025)

Lalu subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,36 persen, Tanaman Pangan 0,24 persen, dan Perikanan 0,19 persen.

Meskipun demikian, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Kalimantan Tengah justru mengalami penurunan sebesar 0,12 persen pada Mei 2025. Penurunan ini dipicu oleh turunnya indeks pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,20 persen; kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,01 persen; serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,15 persen.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,04 persen, dari 138,76 pada April menjadi 138,71 pada Mei 2025. NTUP mencerminkan kemampuan petani dalam membiayai proses produksinya.

Sebagai informasi, NTP merupakan perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), yang dikalikan 100.

Indikator ini sering digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani, sekaligus menjadi cerminan daya tukar (terms of trade) antara produk pertanian dan barang/jasa konsumsi rumah tangga petani. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *