Example 728x250
BERANDABERITA KALTENGBISNIS DAN KEUANGANKEMBALI KEBERANDA

Potensi Superhub Ekonomi Nusantara, Rio Kriswana Nilai Kalteng Bisa Naik Kelas dari Pemasok Komoditas

47
×

Potensi Superhub Ekonomi Nusantara, Rio Kriswana Nilai Kalteng Bisa Naik Kelas dari Pemasok Komoditas

Sebarkan artikel ini
Foto: Ekonom muda Kalteng, Rio Kriswana.

Palangka Raya, Beritadigital.net — Kalimantan Tengah perlu memperkuat industri hilir, konektivitas, dan investasi produktif agar mampu mengambil peran lebih besar dalam pengembangan Kalimantan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah.

Ekonom asal Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, menyampaikan hal tersebut pada Rabu (21/10/2026), menanggapi proyeksi Kementerian PPN/Bappenas yang menempatkan Kalimantan sebagai penggerak transformasi ekonomi dan pemerataan pembangunan nasional.

Menurut Rio, penguatan kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam yang dibahas dalam 2nd Borneo Economic Forum di Kuching, Malaysia, pada 7 Oktober 2026, menjadi peluang bagi Kalimantan Tengah untuk memperluas pasar dan meningkatkan kontribusi dalam rantai perdagangan regional.

Ia menilai, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) dapat menjadi salah satu penggerak ekosistem ekonomi Kalimantan. Namun, manfaatnya bagi Kalimantan Tengah perlu diwujudkan melalui pengembangan industri pengolahan, peningkatan produktivitas, dan keterhubungan antara sentra produksi dengan pasar.

“Ini momentum yang perlu dimanfaatkan pemerintah dan dunia usaha. Sumber daya alam harus diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing daerah. Ini salah satu keuntungan bagi daerah, termasuk juga perekonomian untuk masyarakat luas di Kalimantan Tengah,” ujar Rio, yang saat ini menempuh pendidikan doktoral Manajemen Bisnis di Universitas Negeri Jakarta.

Ia menjelaskan, potensi sumber daya alam yang dimiliki Kalimantan Tengah belum sepenuhnya tercermin dalam pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kalteng tumbuh 4,80 persen sepanjang 2025 dengan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sekitar Rp241,1 triliun. Kontribusi Kalteng terhadap perekonomian Pulau Kalimantan mencapai 12,56 persen.

Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia, ekonomi Kalteng pada triwulan II 2026 tumbuh 3,53 persen secara tahunan. Angka tersebut berada di bawah pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan sebesar 4,10 persen dan nasional sebesar 5,29 persen.

Kondisi tersebut, menurut Rio, menunjukkan perlunya upaya lebih kuat untuk meningkatkan produktivitas dan menarik investasi yang mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian lokal.

“Kalteng memiliki basis perkebunan, pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Potensi itu perlu dikembangkan agar daerah tidak hanya memasok bahan mentah, sementara nilai tambah, teknologi, dan pekerjaan berkualitas justru lebih banyak tercipta di luar daerah,” jelasnya.

Rio mencontohkan sektor perkebunan kelapa sawit yang memiliki peluang pengembangan produk turunan, seperti oleokimia, biodiesel, dan minyak goreng. Di sektor pertanian, penguatan pengolahan hasil panen, fasilitas penyimpanan, serta distribusi juga diperlukan agar produksi petani dapat terserap secara berkelanjutan.

Pengembangan industri tersebut dinilai dapat memperluas kesempatan usaha bagi pelaku UMKM, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dan membuka peluang bagi penyedia jasa logistik di daerah.

Selain hilirisasi, Rio menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang terhubung dengan kebutuhan ekonomi. Konektivitas antara sentra produksi, kawasan industri, pelabuhan, jalur transportasi sungai, dan pasar perlu diperkuat agar distribusi barang lebih efisien.

Menurutnya, kesiapan energi, kepastian perizinan, pembiayaan, ketersediaan lahan, dan pelayanan investasi yang terintegrasi juga menjadi faktor penting untuk menarik penanaman modal.

“Investasi akan lebih bermanfaat ketika terhubung dengan kapasitas ekonomi lokal. UMKM perlu memperoleh kesempatan masuk ke rantai pasok, tenaga kerja lokal perlu mendapat pelatihan sesuai kebutuhan industri, dan perguruan tinggi dapat dilibatkan untuk meningkatkan teknologi serta produktivitas,” katanya.

Rio menambahkan, kerja sama lintas negara antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam perlu diarahkan pada kemitraan perdagangan dan investasi yang konkret. Kedekatan geografis antarwilayah di Pulau Kalimantan, menurutnya, dapat menjadi modal untuk memperluas pemasaran produk unggulan Kalimantan Tengah.

Meski demikian, pengembangan ekonomi harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, termasuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), perlindungan sumber daya air, serta penghormatan terhadap hak masyarakat lokal.

Rio yang pernah mengantarkan atlet esports meraih medali perak pada Pekan Olahraga Nasional (PON) itu menegaskan, status strategis Kalimantan dalam agenda pembangunan nasional perlu diikuti kebijakan yang terukur dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pengakuan atas posisi strategis Kalimantan harus terlihat dalam hasil yang dirasakan masyarakat. Masa depan daerah diperjuangkan dengan memperkuat daya saing dan kontribusi dalam ekonomi nasional. Jadi bagi Kalteng, superhub harus menjadi momentum naik kelas dari pemasok komoditas menjadi bagian aktif dalam rantai nilai regional,” tutupnya. (Zbl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *