Example 728x250
BERANDABERITA KALTENGKEMBALI KEBERANDA

WWF Dorong Transformasi Perhutanan Sosial Lewat Sekolah Jangka Benah di Palangka Raya

216
×

WWF Dorong Transformasi Perhutanan Sosial Lewat Sekolah Jangka Benah di Palangka Raya

Sebarkan artikel ini
Foto: Suasana pembukaan pelatihan berbasis komunitas bertajuk Sekolah Jangka Benah yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia di Kalteng.

Palangka Raya, beritadigital.net – WWF Indonesia melalui perwakilannya di Kalimantan Tengah (Kalteng) menginisiasi pelatihan berbasis komunitas bertajuk Sekolah Jangka Benah, yang diselenggarakan di salah satu hotel di Palangka Raya pada Selasa (17/6/2025).

Program ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam memperkuat skema perhutanan sosial dan memperbaiki tata kelola kawasan hutan yang telah beralih fungsi.

Pelatihan ini diikuti oleh para pengelola kawasan hutan (PKH) serta lembaga pendamping masyarakat, dengan tujuan mempererat kolaborasi antara warga dan pemerintah dalam menjaga hutan, sambil mendorong kesejahteraan berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Agustan Saining, dalam sambutannya menyampaikan bahwa implementasi perhutanan sosial masih menyisakan sejumlah hambatan, terutama menyangkut aspek legalitas dan perlindungan hak masyarakat.

“Kita memang sudah memiliki Satgas Garuda untuk memperkuat kepastian hukum, tetapi tantangan di lapangan belum sepenuhnya teratasi,” ujar Agustan.

Ia menambahkan bahwa saat ini perhutanan sosial di wilayah Kalimantan Tengah mencakup sekitar 400 ribu hektare, namun pemanfaatannya dinilai belum optimal dibandingkan potensi sebenarnya yang dimiliki provinsi ini.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa jadi pemicu peningkatan kualitas pengelolaan, bukan hanya dari sisi teknis, tapi juga dari aspek kelembagaan dan kemitraan,” lanjutnya.

Pelatihan Sekolah Jangka Benah menjadi forum berbagi pengalaman, pengetahuan, serta metode penerapan Strategi Jangka Benah (SJB)—sebuah pendekatan yang ditujukan untuk mengatasi persoalan penggunaan kawasan hutan, sebagai perkebunan sawit monokultur yang sudah berlangsung lama.

Manajer Program WWF Indonesia, Simon, menyatakan bahwa tujuan utama SJB adalah mendorong peralihan dari sistem monokultur menuju agroforestri.

Melalui skema ini, kebun sawit yang ada dipadukan dengan jenis tanaman lain guna memulihkan fungsi ekologis hutan tanpa menurunkan produktivitas lahan.

“Kita ingin sistem budidaya di kawasan hutan tidak hanya menghasilkan, tapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelas Simon.

WWF menekankan bahwa pendekatan ini hanya akan berhasil jika didukung kolaborasi yang kuat antara masyarakat, pemerintah, dan organisasi pendamping. Konservasi, menurut mereka, tidak boleh berhenti sebagai jargon, tetapi perlu diintegrasikan dalam praktik hidup masyarakat hutan secara nyata. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *