Example 728x250
BERANDABERITA KALTENGBISNIS DAN KEUANGANKEMBALI KEBERANDA

BI Rate Naik, Rio Kriswana Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi Nasional

74
×

BI Rate Naik, Rio Kriswana Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi Nasional

Sebarkan artikel ini
Foto: Ekonom Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM,.

Palangka Raya, Beritadigital.net – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen dinilai sebagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun, kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi terhadap dunia usaha, pasar keuangan, dan aktivitas investasi di dalam negeri.

Ekonom Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM, mengatakan kenaikan suku bunga merupakan sinyal bahwa Bank Indonesia melihat adanya risiko ekonomi yang perlu diantisipasi lebih awal. Menurutnya, kondisi ekonomi global saat ini masih dibayangi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, fluktuasi harga energi hingga penguatan dolar Amerika Serikat.

“Kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat investor cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih aman. Situasi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar, arus modal, dan stabilitas pasar keuangan domestik,” katanya, Selasa (9/6/2026).

Rio menjelaskan, melalui kenaikan BI Rate, Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Dengan suku bunga yang lebih tinggi, instrumen seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik sehingga dapat membantu menahan tekanan terhadap nilai tukar.
“Dari sisi stabilitas jangka pendek, langkah ini dapat dipahami karena dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah dan membantu menjaga inflasi tetap terkendali,” ujarnya.

Meski demikian, Rio menilai kenaikan suku bunga bukanlah solusi permanen untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Ia menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, sektor perbankan yang sehat, serta konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor penggerak ekonomi.
Namun, menurutnya, ekonomi nasional masih rentan terhadap perubahan sentimen global dan pergerakan modal internasional.

“Fundamental ekonomi kita cukup baik, tetapi tekanan dari luar negeri tetap bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan maupun aktivitas investasi,” katanya.
Rio juga menyoroti potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap pasar saham. Ia menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate umumnya menjadi sentimen negatif bagi pasar karena biaya pinjaman perusahaan meningkat dan ekspansi usaha menjadi lebih mahal.

“Akibatnya, IHSG sering mengalami tekanan dalam jangka pendek. Namun perlu dipahami bahwa pergerakan pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi riil secara langsung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rio mengingatkan pentingnya kualitas investasi yang masuk ke Indonesia. Ia menilai investasi produktif seperti pembangunan industri, hilirisasi, dan pengembangan teknologi akan memberikan manfaat jangka panjang yang lebih besar dibandingkan modal portofolio jangka pendek atau hot money.
“Investasi jangka panjang akan datang ketika sebuah negara mampu memberikan kepastian, kepercayaan, dan arah pembangunan yang jelas,” tegasnya.

Selain faktor ekonomi formal, Rio juga menyinggung munculnya fenomena yang dikenal sebagai lipstick economy, yakni kondisi ketika masyarakat menahan pembelian besar seperti rumah atau kendaraan, tetapi tetap membelanjakan uang untuk produk konsumsi yang lebih kecil seperti kopi premium, kosmetik, atau hiburan digital.

Menurutnya, fenomena tersebut dapat menjadi salah satu indikator perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang perlu dicermati dalam membaca kondisi ekonomi.
Rio menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia ke depan tidak hanya terkait nilai tukar atau inflasi, melainkan bagaimana memperkuat kemandirian ekonomi melalui peningkatan investasi produktif, industrialisasi, inovasi, produktivitas tenaga kerja, serta pendalaman pasar keuangan domestik.

“Kenaikan BI Rate dapat menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Namun yang lebih penting adalah memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat fondasi ekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap masa depan Indonesia,” pungkasnya. (Zbl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *